Jumat, 29 November 2013

Laporan praktikum pertanian tanpa tanah (Budidaya Jamur Merang)



==============================
LAPORAN PRAKTIKUM
PERTANIAN TANPA TANAH
BUDIDAYA JAMUR MERANG (Volvariella volvacea)


OLEH

EDI NUGROHO
11011025

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
YOGYAKARTA

2013


==============================
KATA PENGANTAR



Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga praktikan dapan menyelesaikan Laporan Praktikum Pertanian Tanpa Tanah ini tepat waktu dan sesuai seperti yang direncanakan.
Dengan laporan ini diharapkan kita bisa mengetahui tentang bagaimana cara tentang bagai mana cara berbudidaya jamur merang dan juga dapat memberikan banyak informasi untuk kita semua khususnya di bidang pertanian.
Dalam penyusunan laporan ini tentu tak luput dari bantuan berbagai pihak. Tidak lupa, Praktikan mengucapkan Terimakasih kepada :
1. Ibu Drs.Umul Aiman,M.Si. selaku Dosen pengampu mata kuliah praktikum pertanian tanpa tanah.
2. Asisten Praktikum mata kuliah Pertanian tanpa tanah.
3. Teman-teman Universitas Mercu Buana Yogyakarta angkatan 2011.
 Atas semua kesempatan, bimbingan, arahan, motivasi, ilmu, informasi, sehingga praktikan dapat melakukan praktikum, sekaligus penyusunan laporan ini, sehingga laporan ini selesai seperti yang diharapkan.
 Praktikan menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu praktikan harapkan demi kesempurnaan laporan ini dan yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan revisi pada penyusunan Laporan dimasa mendatang.
 Akhir kata praktikan sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT  senantiasa meridhai segala usaha kita. Aamiin..
                                                                                 Yogyakarta, 23 mei 2013

                                                        Praktikan  

==============================
DAFTAR ISI
  
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I . PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
  2. Tujuan praktikum
BAB II . TINJAUAN PUSTAKA
BAB III . METODOLOGI PRAKTIKUM
  1. Waktu dan Tempat
  2. Alat dan Bahan
  3. Cara Kerja
BAB IV . HASIL DAN PEMBAHASAN
  1. Hasil
  2. Pembahasan
BAB V . KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

 ==============================
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Budidaya jamur merupakan salah satu budidaya yang tidak mengenal musim dan tidak membutuhkan tempat yang luas. Jenis-jenis jamur yang umum dibudidayakan ialah jamur merang (Volvariella volvaceae), jamur tiram (Pleurotus ostreatus), jamur kuping (Auricularia polytricha), jamur payung (Lentinus edodes), dan jamur kancing (Agaricus Sp). Hasil panen jamur tersebut tak hanya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri bahkan ada juga yang di ekspor, seperti jamur kancing dan jamur payung. Media untuk pertumbuhan jamur dapat menggunakan limbah yaitu limbah pertanian(merang dan daun pisang) dan limbah industri (serbuk gergaji). Ramuan atau campuran yang digunakan sebagai media juga bermacam-macam, sedangkan metode yang digunakan untuk budidaya jamur ini juga bermacam-macam,seperti cara ilmiah, konvensional, tradisional, dan semi modern.
Jamur merupakan salah satu jenis tumbuhan yang banyak dijumpai di alam bebas terutama muncul pada waktu musim penghujan atau di tempat lembab lainnya. Beberapa jenis jamur yang dapat dikonsumsi/ menguntungkan antara lain: Jamur Merang (Volvariella volvaceae), jamur kancing atau champignon (Agaricus bisporus), Jamur Tiram atau hiratake (Pleurotus.sp.), Jamur shiitake (Lentinus edodes), Jamur kuping (jamur kuping putih:Tremella fuciformis; jamur kuping hitam : Auricularia polytricha; Jamur kuping merah : Auricularia auricula-judae). Jamur yang merugikan antara lain karena bersifat pathogen yaitu dapat menyebabkan penyakit pada manusia,hewan maupun tumbuhan
           
B.     Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui cara budidaya jamur merang. 
2. Mahasiswa mampu dan terampil dalam mempraktekkan berbudidaya jamur merang.


==============================
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Jamur atau cendawan adalah suatu organisme yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa. Hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada juga dengan cara generatif. Jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya untuk memperoleh makanannya. Setelah itu, menyimpannya dalam bentuk glikogen. Jamur merupakan konsumen, maka dari itu jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnyaSemua zat itu diperoleh dari lingkungannya.Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit. (wiki,2011).
Jamur terdiri dari bermacam- macam jenis,ada yang merugikandan ada yang menguntungkan bagi kehidupan manusia.Jamur yang merugikan antara lain karena bersifat pathogen yaitu dapat menyebabkan penyakit pada manusia,hewan maupun tumbuhan.Diantara jamur yang menguntungkan manusia misalnya : penicillium yang menghasilkan antibiotik penisilin, jamur-jamur yang berperan dalam proses fermentasi makanan seperti kecap, tempe, tape, tauco dan lain-lain. Bahkan banyak jenis jamur yang dapat dikonsumsi (dimakan) antara lain jamur kuping, jamur tiram, jamur shiitake, jamur agaricus (campignon) dan jamur merang. Dewasa ini budidaya jamur (Mushrooming the mushroom) yang dapat dimakan telah banyak dilakukan orang yaitu dengan menggunakan limbah pertanian sebagai media tumbuhnya. Budidaya jamur yang dapat dimakan (edible mushroom) merupakan salah satu cara mengatasi kekurangan pangan dan gizi serta menganekaragamkan pola komsumsi pangan rakyat.     Dari analisa menunjukkan bahwa kandungan mineral jamur lebih tinggi daripada gading sapi dan domba, bahkan hampir dua kali lipat jumlah garam mineral dalam sayuran. Jumlah proteinnya dua kali lipat protein asparagus, kol, kentang dan empat kali lipat daripada tomat dan wortel serta enam kali lipat dari jeruk. Selain itu jamur juga mengandung zat besi, tembaga, kalium dan kapur, kaya vitamin B dan D, sejumlah enzim tripsin yang berperan sangat penting pada proses pencernaan, kalor dan kolesterolnya rendah. (Widiastuti,2007) 
Kistinnah (2010), menyatakan bahwa secara alamiah, jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dilakukan dengan pembelahan, yaitu dengan cara sel membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa, penguncupan, yaitu dengan cara sel anak yang tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inangnya atau pembentukan spora. Spora aseksual ini berfungsi untuk menyebarkan speciesnya dalam jumlah yang besar dengan melalui perantara angin atau air. Ada beberapa macam spora aseksual, di antaranya seperti berikut: Konidiospora, merupakan konidium yang terbentuk di ujungatau di sisi hifa. Ada yang berukuran kecil, bersel satu yang disebut mikrokonidium, sebaliknya konidium yang berukuran besar dan bersel banyak disebut makrokonidium. dan Sporangiospora, merupakan spora bersel satu yang terbentuk dalam kantung yang disebut sporangium, pada ujung hifa khusus.
Jamur merang merupakan organisme yang tersusun atas komponen dasar berupa hifa yang terbentuk seperti benang halus dan panjang. Sebagian hifa dibatasioleh dinding melintang yang disebut septa/sekat , namun ada pula hifa yang tidak memiliki sekat/ asepta. Selanjutnya kumpulan hifa tersebut membentuk misellium yang menyusun tubuh buah. Jamur merang telah lama dibudidayakan sebagai bahan pangan, karena termasuk golongan jamur yang enak rasanya. Jamur merang umumnya tumbuh pada media yang merupakan sumber selulosa, misalnya, pada tumpukan merang, dekat limbah penggilingan padi, limbah pabrik kertas, ampas batang aren, limbah kelapa sawit, ampas sagu, sisa kapas, kulit buah pala, dan sebagainya. (Anonim.2011)
Klasifikasi jamur merang :
Kingdom                     : Fungi
Divisi                           : Amastigomycota
Sub Devisi                   : Basidiomycotea
Kelas                          : Basidiomycetes
Ordo                           : Agaricales
Famili                          : Plutaceae
Genus                          : Volvariella    
Spesies                        : Volvariella volvacea
Sesuai dengan nama ilmiahnya, Volvariella volvacea, jamur ini memiliki volva atau cawan berwarna cokelat muda yang awalnya merupakan selubung pembungkus tubuh buah saat masih stadia telur. Dalam perkembangannya, tangkai dan tudung buah membesar sehingga selubung tersebut tercabik dan terangkat ke atas dan sisanya yang tertinggal di bawah akan menjadi cawan.Jika cawan ini telah terbuka akan terbentuk bilah yang saat matang memproduksi basidia dan basidiospora berwarna merah atau merah muda. Selanjutnya basidiospora akan berkecambah dan membentuk hifa. Setelah itu, kumpulan hifa membentuk gumpalan kecil (pin head) atau primordial yang akan membesar membentuk tubuh buah stadia kancing kecil (small button), kemudian tumbuh menjadi stadia kancing (button), dan akhirnya berkembang menjadi stadia telur (egg). Dalam budi daya jamur merang, pada stadia telur inilah jamur dipanen. (Suriawiria,2006)
Jamur merang tumbuh di lokasi yang mempunyai suhu 32¬-38°C dan kelembapan 80-90% dengan oksigen yang cukup. Jamur ini tidak tahan terhadap cahaya matahari langsung, tetapi tetap membutuhkannya dalam bentuk pancaran tidak langsung. Derajat keasaman (pH) yang cocok untuk jamur merang adalah 6,8-7.
Jamur merang kaya akan protein kasar dan karbohidrat bebas N (N-face carbohydrate). Tingkat kandungan serat kasar dan abu adalah moderat, sedangkan kandungan lemaknya rendah. Nilai energi jamur merang rendah, namun merupakan sumber protein dan mineral yang baik dengan kandungan kalium dan fosfor yang tinggi. Kandungan Na, Ca, Mg dan Cu, Zn , Fe cukup. Kandungan logam berat Pb dan Cd tidak ada, sehingga jamur merang sangat baik digunakan sebagai bahan makanan sehari-hari. Kandungan protein jamur merang mencapai 1, 8 persen, lemak 0.3 persen, dam karbohidrat 12 – 48 persen.
Jamur merang kaya akan protein, sebagai makanan anti kolesterol, eritadenin dalam jamur merang dikenal sebagai penawar racun, dan banyak mengandung antibiotik yang berguna untuk pencegahan anemia. Menurut penelitian jamur juga dapat digunakan untukmengobati kanker.
Anonim (2010) menyatakan bahwa hal penting yang harus dipenuhi adalah menciptakan dan menjaga kondisi lingkungan pemeliharaan (cultivation) yang memenuhi syarat pertumbuhan jamur tiram. Hal lain yang penting adalah menjaga lingkungan pertumbuhan jamur tiram terbebas dari mikroba atau tumbuhan pengganggu lainnya. Tidak jarang pembudidaya jamur tiram mendapati baglog (kantong untuk media jamur tiram) ditumbuhi tumbuhan lain selain jamur tiram, hal ini disebabkan proses sterilisasi yang kurang baik dan lingkungan yang tidak kondusif. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk melakuka budidaya jamur tiram ini, tahapan pemeliharaan atau penanaman jamur tiram meliputi persiapan sarana produksi dan tahapan budidaya jamur tiram. Tahapan ini merupakan proses budidaya jamur tiram dari mulai pembuatan media sampai proses pemanenan jamur tiram. Jika anda tidak ingin repot menyemai benih, anda bisa membeli baglog yang sudah siap dengan benih jamur tiram yang sudah siap dibudidayakan.


==============================
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat 
           Praktikum Pertanian Tanpa Tanah pada acara pembuatan kumbung mini jamur ini dilakuakan di Laboratorium Agronomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada hari selasa, 23 April 2013 pukul 13.00 WIB s/d selesai.
B. Alat dan Bahan
    a. alat
        1. Kumbung mini
        2. Autoklaf
        3. Sarung tangan plastik
    b.bahan 
        1. 20 kg kompos jerami
        2. 10 kg kompos kapuk randu
        3. Alkohol
        4. Bibit F3 jamur Merang (Volvariella volvaceae)
C.     Cara Kerja
1.      Sterilisasi alkohol  dengan cara menyemprotkan pada rak-rak kumbung.
2.      Sterilisasi media dengan autoklaf selama 1-2 jam.
3.      Media di keluarkan dari autoklaf dan di dinginkan.
4.   Setelah media dingin kemudian media dimasukan ke dalam kumbung dan ditata dengan ketebalan kurang lebih 20 cm,dan tambahkan kapuk randu diatas media dengan ketebalan kurang lebih 2 cm
5.      Taburkan bibit F3 di atas media secara merata menggunakan sapu tangan plastik dengan kondisi yang steril.
6.    Pada lapisan luar di tutup dengan penutup dengan penutupyang tidak tembus cahaya dengan tujuan untuk mempercepat pertumbuhan miselium jamur (kurang lebih selama 3 hari).
7. Setelah miselium tumbuh ,penutup di buka .Kondisi kumbung tetap tertutup rapat oleh plastik transparan
8.  Pemeliharaan dengan pengkabutan air agar kelembapan dalam kumbung dan media tetap terjaga,serta dapat mempercepat perkembangan tubuh buah jamur
9.     Melakukan pengamatan dan memonitoring tubuh jamur yang siap panen.


=============================
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
            Setelah melakukan praktikum atau percobaan berbudidaya jamur merang maka diperoleh hasil gambar dan data sampel sebagai berikut :
 Gambar 1. budidaya jamur dan hasil panen

Tabel data pengamatan sampel hasil panen
Sampel
Tinggi
Berat
Diameter
1
2,6 cm
9,5 gr
2,7 cm
2
3,5 cm
10,9 gr
3 cm
3
3,2 cm
8,9 gr
2,6 cm
4
3   cm
9,4 gr
2,5 cm
5
3,3 cm
9,9 gr
2,8 cm
Total
15,6 cm
48, 6 gr
13,6 cm
                          Total seluruh berat hasil pertama panen  : 960 gr

B. Pembahasan
Jamur merang merupakan organisme yang tersusun atas komponen dasar berupa hifa yang terbentuk seperti benang halus dan panjang. Sebagian hifa dibatasi oleh dinding melintang yang disebut septa/sekat. Jamur merang kaya akan protein, sebagai makanan anti kolesterol, eritadenin dalam jamur merang dikenal sebagai penawar racun, dan banyak mengandung antibiotik yang berguna untuk pencegahan anemia. Menurut penelitian jamur juga dapat digunakan untukmengobati kanker.
Sesuai dengan namanya, umumnya jamur ini tumbuh pada merang atau jerami padi. Jamur merang dapat dengan mudah kita temui di tumpukan jerami sehabis masa panen padi. Seusai masa panen, jamur merang akan sulit ditemui. Namun dengan cara pembudidayaan modern, kita dapat menikmati jamur merang kapan saja. Tidak tergantung musim. Pembudiyaan jamur merang secara modern, membutuhkan tempat khusus yang diset sebagai tempat tumbuh jamur. Kumbung (rumah jamur) yang telah dilengkapi media tumbuh dan telah diatur temperaturnya merupakan tempat terbaik untuk kembang biak jamur merang.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk melakuka budidaya jamur merang ini, tahapan pemeliharaan atau penanaman jamur tiram meliputi persiapan sarana produksi dan tahapan budidaya jamur tiram. Tahapan ini merupakan proses budidaya dari mulai pembuatan media sampai proses pemanenan.
Pada praktikum kali ini budidaya jamur merang kumbung yang di gunakan adalah kumbung mini jamur atau kumbung dengan sekala rumah tangga. Yang berukuran yaitu 100 cm x 60 cm x 120 cm dan mempunyai 3 tingkatan/rak. Sebelum diisi media merang/jerami kumbung jamur disterilkan terlebih dahulu dengan cara menyemprotkan alcohol secara merata kesetiap tingkatan/rak. Jerami/merang dan juga kapuk yg digunakan pun terlebih dahulu disterilkan baru kemudian dimasukkan ke dalam kumbung mini tersebut. Kemudian tunggu dingin. Baru Bibit ditebarkan di seluruh permukaan jerami yang telah dikomposkan. Setelah itu, jendela dan pintu kumbung ditutup selama tiga hari. Suhu dijaga dalam kisaran 32-38 derajat celcius. Bibit jamur memerlukan suhu yang agak panas untuk menumbuhkan miselium (benang-benang jamur). Bibit jamur merang biasanya diperoleh dari penjual bibit. Tidak mudah membuat biakan bibit jamur sendiri.
Hal penting yang harus dipenuhi dalam budidaya jamur merang adalah menciptakan dan menjaga kondisi lingkungan pemeliharaan (cultivation) yang memenuhi syarat pertumbuhan jamur. Hal lain yang penting adalah menjaga lingkungan pertumbuhan jamur merang terbebas dari mikroba atau tumbuhan pengganggu lainnya. Sirkulasi udara harus dijaga. Selain itu, perhatikan pula media tumbuh, jangan sampai jerami kering. Bila perlu, semprotkan air .
Syarat tumbuh jamur tiram meliputi beberapa parameter, terutama temperature, kelembapan relatif, waktu , kandungan CO2, dan cahaya. Parameter tersebut memiliki pengaruh yang berbeda terhadap setiap stadium atau tingkatan.
Pada hari ke 7 – 12 setelah peletakan bibit, jamur merang sudah siap dipanen. Jamur merang biasanya diminati saat kuncupnya belum mekar, masih berbentuk bulat dengan warna putih kecoklatan. Bila kuncup telah mekar, meski masih bisa dimakan, namun nilai ekonomisnya akan turun.
Pada proses pemanenan dilakukan denga sangat hati-hati jangan sampai medianya terangkat supaya nantinya dapat tumbuh kembali. Pada pemanenan pertama diperoleh berat seluruh yaitu 960 gr . dan pada pemanenan kedua jamur sudah membuka semua dikarenakan terlambatnya waktu pemanenan.
Dan pada saat praktikum menggunakan 2 tipe kumbung yaitu kumbung dengan bentuk limas dan segitiga  pada bagian atasnya. Dan pertumbuhan jamur ternyata lebih banyak yang menggunakan tipe limas. Danjuga plastic yg digunakan lebuh baik yang agak buram sedikit.
 
=============================
BAB V
KESIMPULAN

            Dari praktikum atau percobaan yang sudah kami lakukan , maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.  Jamur merang merupakan organisme yang tersusun atas komponen dasar berupa hifa yang terbentuk seperti benang halus dan panjang. Sebagian hifa dibatasi oleh dinding melintang yang disebut septa/sekat.
2.      Penyebab kontaminasi adalah antara lain sebagai berikut:
·         Pencampuran Bahan dan Pengomposan
·         Faktor dari jerami/merang yg digunakan
·         Faktor PH
·         Faktor air
·         Faktor sterilisasi
·         Faktor bibit jamur yang kurang baik.
3.    Pada pemanenan pertama diperoleh berat seluruh yaitu 960 gr . dan pada pemanenan kedua jamur sudah membuka semua dikarenakan terlambatnya waktu pemanenan.

 ================================
DAFTAR PUSTAKA
                                                                          
Budhi Widiastuti, Budidaya jamur kompos, jamur merang dan jamur kancing, Penebar Swadaya, 2007.

Budiawan, Fandi., Pengaturan Suhu Dan Kelembaban Pada Miniatur Kumbung Untuk Meningkatkan Produktifitas Jamur Tiram, Yogyakarta



Parjimo dan Agus Andoko, Budidaya jamur, jamur kuping, jamur tiram, dan jamur merang, Agro Media Pustaka 2007

Suriawiria.  2006. Budidaya Jamur Merang.  Kanisius.  Yogyakarta.  55 hlm.

=============================

Suksesss Selaluuu … 
 

 
Posting Komentar