Selasa, 28 Mei 2013

LAPORAN PRAKTIKUM PERTANIAN TANPA TANAH






LAPORAN PRAKTIKUM
PERTANIAN TANPA TANAH


OLEH

EDI NUGROHO
11011025

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
YOGYAKARTA
2013



KATA PENGANTAR

          Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Laporan Praktikum Pertanian Tanpa Tanah yang berjudul Pembuatan Kumbung mini jamur dan pembuatan bibit jamur F0. Dengan laporan ini kita bisa mengetahui tentang bagai mana cara Pembuatan Kumbung mini jamur dan  juga pembuatan bibit jamur F0.
          Diharapkan laporan ini dapat memberikan banyak informasi untuk kita semua khususnya di bidang pertanian. Tidak lupa, penyusun mengucapkan terimakasih khususnya kepada Ibu Drs.Umul Aiman,M.Si selaku dosen pengajar mata kuliah Praktikum pertanian tanpa tanah.
          Kami menyadari bahwa laporan  ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

                                                                                                             Yogyakarta, 15 mei 2013
                                                                       
                                                                                                                           Praktikan

DAFTAR ISI

ACARA I . PEMBUATAN KUMBUNG MINI
BAB I . PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang 
  2. Tujuan praktikum 
BAB II .TINJAUAN PUSTAKA 
BAB III . METODOLOGI PRAKTIKUM
  1. Waktu dan Tempat  
  2. Alat dan Bahan 
  3. Cara Kerja
BAB IV . HASIL DAN PEMBAHASAN
  1. Hasil
  2. Pembahasan
BAB V . KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

ACARA II . PEMBUATAN PEMBUATAN BIBIT  F0
BAB I . PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
  2. Tujuan praktikum
BAB II . TINJAUAN PUSTAKA
BAB III . METODOLOGI PRAKTIKUM
  1. Waktu dan Tempat
  2. Alat dan Bahan
  3. Cara Kerja
BAB IV . HASIL DAN PEMBAHASAN
    A. Hasil  
    B. Pembahasan
BAB V . KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA



LAPORAN PRAKTIKUM
PERTANIAN TANPA TANAH

ACARA I
PEMBUATAN KUMBUNG MINI JAMUR

OLEH

EDI NUGROHO
 11011025
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANAYOGYAKARTA


 
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
       Umumnya kumbung di indonesia terbuat dari bahan bambu mengingat banyak sekali bambu yang tumbuh di tanah air ini. Menurut Sulistyowati (1996), walau memiliki banyak sifat menguntungkan, bambu rentan terhadap kerusakan. Proses kerusakan mempengaruhi keawetan bambu. Penyebab kerusakan bambu ada 2 yaitu : perusak biologis dan non biologis.Bentuk kumbung itu sendiri tidak berbeda dengan bangunan rumah, hanya saja di dalamnya terdapat rak-rak untuk menyusun media tanam jamur.
          Secara teoritis, kumbung yang terbaik adalah kumbung yang dapat menjaga kelembaban optimal yang dibutuhkan untuk perkembangan jamur tiram. Selain itu terdapat sirkulasi udara yang memadai.
Kumbung mini merupakan usaha tani yang ramah lingkungan, dengan memanfaatkan limbah rumah Atangga (plastik, sterofoam, kayu) dan pertanian (jerami padi, ampas aren/tebu), menghasilkan keuntungan dan memenuhi kebutuhan keluarga dengan menggunakan modal yang relatif kecil.

      Sebelum membuat kumbung ada baiknya kita melakukan berbagai survey untuk memperhatikan bagaimana kondisi lokasi yang kita pilih untuk dibangun kumbung/rumah jamur yaitu :
1. Arah sirkulasi udar & Kondisi suhu dan kelembaban
2. Ada tidaknya pencemaran udara di sekitar lokasi
3. Banyak bangunan yang mengapit lokasi
4. Sebaiknya di sekitar kumbung banyak terdapat pohon, atau tanaman yang rimbun.

B. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan kumbung mini jamur.
2. Mahasiswa mampu dan terampil dalam mempraktekan pembuatan kumbung mini jamur.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

      Kumbung jamur adalah istilah yang biasa di sebut untuk rumah jamur yang fungsinya untuk menyimpan media tanam jamur agar hasilnya berkualitas baik dari segi bentuk maupun bobotnya. Membuat kumbung jamur sebenarnya mudah sebab hampir sama dengan membuat gubug, bahannya pun bisa di dapatkan di sekitar rumah misalnya bambu yang penting kuat dan kokoh.
    Menurut Sulistyowati (1996), walau memiliki banyak sifat menguntungkan, bambu rentan terhadap kerusakan. Proses kerusakan mempengaruhi keawetan bambu. Penyebab kerusakan bambu ada 2 yaitu : perusak biologis dan non biologis.
    Menurut Redaksi Agromedia (2011) rangka bangunan kumbung bisa terbuat dari bambu dan kayu. Rangka bangunan yang dipilih akan mempengaruhi umur usaha budidaya jamur sehingga perlu di perhatikan keawetan atau daya tahan rangka yang akan digunakan.
      Rangka kumbung bisa dibuat dari bahan besi, kayu, atau bahkan untuk penghematan bisa memanfaatkan batangan bambu yang harganya  lebih murah. Dinding dan atapnya dapat terbuat dari lembaran plastik atau bahan-bahan lain yang mudah didapat disekitaran rumah, seperti anyaman daun nipah, daun tebu atau jerami yang berfungsi menahan air hujan dan panas matahari. Bentuk atap kumbung  bisa  dibuat  melengkung  atau  seperti  atap  rumah  pada  umumnya (Parjino & Andoko, 2007).
Ketahanan kayu terhadap serangga dan perusak kayu khususnya yang bersentuhan dengan laut disebabkan oleh kandungan zat ekstraktifnya. Zat ekstratif dalam kayu berfungsi sebagai racun bagi perusak kayu-perusak kayu, sehingga perusak tersebut tidak bisa masuk dan tinggal dalam kayu tersebut (Panshin dan Zeeuw,1980 dalam Zibua,2008).



BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat
       Praktikum Pertanian Tanpa Tanah pada acara pembuatan kumbung mini jamur ini dilakuakan di Laboratorium Agronomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada hari sabtu 06 April 2013 pukul 10.00 WIB s/ d selesai.
B. Alat dan Bahan
    a. Alat  
         1. Gunting 
         2. Palu
         3. Gergaji
         4. Parang
         5. Alat ukur
         6. Penggaris
         7. Termometer
         8. Pensil 
   b. Bahan
       1. Lakban
       2. Paku payung
       3. Reng bambo
       4. Reng kayu
       5. Paku reng 
       6. Plastik dengan ketbalan 0,8 mm


C. Cara Kerja
   1. Menyiapkan kayu reng,bambu ,plastik berketebalan 0,8 mm,paku, lakban serta termometer ruangan. 
   2. Kayu reng dirangkai menjadi bentuk lemari dengan panjang 100 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 120 cm.
        Setelah itu bikin tiga tingkat dengan jarak antar tingkat 30 cm. Atap sebaiknya agak lonjong. 
   3. Untuk bagian depan buat pintu sebagai tempat keluar masuk perawatan dan pemanenan.
   4. Membelahelah bambu lalu jadikan  sebagai alas di setiap tingkat. 
  5. Memasang plastik berketebalan 0,8 mm di sekeliling kerangka. Rekatkan bagian  yang longgar
      dengan plakban.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 
A. Hasil 
        Setelah melakukan praktikum atau percobaan pembuatan kumbung mini jamur dengan memanfaatkan limbah rumah tangga dan pertanian  maka diperoleh hasil gambar sebagai berikut :
Ukuran kumbung
Panjang      :      100 cm
Lebar         :       60 cm
Tinggi         :       120 cm


B. Pembahasan 
Kumbung jamur adalah istilah yang biasa di sebut untuk rumah jamur yang fungsinya untuk menyimpan media tanam jamur agar hasilnya berkualitas baik dari segi bentuk maupun bobotnya.Bentuk dan bahan kumbung bermacam-macam, ada yang terbuat dari bambu, tembok, kayu, paranet, triplek dan sebagainya. 
Kegunaan kumbung adalah mempermudah petani jamur mengatur kondisi lingkungan agar sesuai dengan syarat hidup jamur, dan juga untuk menyimpan media tanam jamur agar hasilnya berkualitas baik. 
Praktikum atau percobaan kali ini yaitu pembuatan kumbung mini yang mempunyai ukuran panjang 100 cm, lebar 60 cm dan mempunyai tinggi 120 cm. kumbung mini ini terbagi atas tiga tingkatan(rak) dengan jarak antar tingkatan 30 cm dimana rak/tingkatan tersebu terbuat dari belahan-belahan yang disusun sejajar. Atas atau bagian atap kumbung ini berbentuk limas. Kemudian setelah kerangka dan juga rak tingkatan sudah jadi kumbung ini pun dilapisi/dibungkus dengan plastic yang rapat supaya nantinya saat budidaya tidak terjadi kontaminasi dan diberi satu puntu guna saat budidaya digunakan untuk perawatan. 
Pembuatan kumbung mini merupakan cara terbaru berbudidaya jamur dalam tempat yang sempit dan juga cocok dalam skala rumah tangga. Kumbung mini merupakan usaha tani yang ramah lingkungan, dengan memanfaatkan limbah rumah Atangga (plastik, sterofoam, kayu) dan pertanian (jerami padi, ampas aren/tebu), menghasilkan keuntungan dan memenuhi kebutuhan keluarga dengan menggunakan modal yang relatif kecil. 
Adapun kendala yang kami hadapi dalam pembuatan kumbung mini ini adalah :
1. Dalam proses perakitan bahan-bahan pembuatan kumbung mengalami kesulitan karena komponen yang digunakan relatif kecil.
2. Kayu yang kami gunakan memiliki tekstur yang keras sehingga dalam menyatukan antar kayu sulit (susah pada saat di paku).
3. Kesulitan dalam mencari plastik dengan ketebalan 0,8 mm sehingga dalam pemasangan plastik harus hati-hati agar tidak sobek.


BAB V
KESIMPULAN
         Setelah melakukan praktikum atau percobaan pembuatan kumbung mini jamur dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kumbung jamur adalah istilah yang biasa di sebut untuk rumah jamur yang fungsinya untuk menyimpan media tanam jamur agar hasilnya berkualitas baik dari segi bentuk maupun bobotnya. Membuat kumbung jamur sebenarnya mudah sebab hampir sama dengan membuat gubug, bahannya pun bisa di dapatkan di sekitar rumah misalnya bambu yang penting kuat dan kokoh.
2. Kumbung mini merupakan usaha tani yang ramah lingkungan, dengan memanfaatkan limbah rumah Atangga (plastik, sterofoam, kayu) dan pertanian (jerami padi, ampas), menghasilkan keuntungan dan memenuhi kebutuhan keluarga dengan menggunakan modal yang relatif kecil.



DAFTAR PUSTAKA

Budhi Widiastuti, Budidaya jamur kompos, jamur merang dan jamur kancing, Penebar Swadaya, 2007.

Budiawan, Fandi., Pengaturan Suhu Dan Kelembaban Pada Miniatur Kumbung Untuk Meningkatkan Produktifitas Jamur Tiram, Yogyakarta

Dumanauw,J.F.1990. Mengenal Kayu. Yogyakarta:kanisius

Phansin AJ,Zeeuw C de .1980. Textbook of Wood Technology Vol. II. New York: Mc Graw-Hill Book Company

Parjimo dan Agus Andoko, Budidaya jamur, jamur kuping, jamur tiram, dan jamur merang, Agro Media Pustaka 2007

Sulistyowati E, Junianto YD.1996.Inventarisasi musuh alami hama PBK, Conopomorpha cramerella Snell di Propinsi maluku. Pelita perkebunan.




LAPORAN PRAKTIKUM
PERTANIAN TANPA TANAH

ACARA II

PEMBUATAN BIBIT JAMUR F0


OLEH

EDI NUGROHO
11011025


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
YOGYAKARTA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
             Bibit jamur tiram adalah hal yang pertama dan utama dalam mengerjakan budidaya jamur tiram , hal yang harus kita perhatikan adalah menentukan kualitas bibit jamur tiram yang akan di gunakan. karena tingkat keberhasilan dalam proses budidaya jamur tiram sangat di tentukan oleh kualitas bibit yang digunakan. Banyak juga pengusaha jamur tiram yang gagal dalam proses budidaya jamur tiram hanya karena tidak tahu tentang kualitas bibit jamur yang di gunakannya. Karena banyaknya suplier bibit jamur yang ngaku-ngaku memiliki bibit bagus akan tetapi kualitasnya rendah.
               Bibit jamur tiram yang terbaik adalah bibit jamur tiram yang menggunakan media terbaik pula dengan hasil panen yang memuaskan, yaitu bibit jamur tiram dengan media jagung, karena jagung adalah media yang nutrisi nya paling cocok dan sangat dibutuhkan oleh jamur tiram. dengan menggunakan jagung kebutuhan nutrisi jamur terpenuhi sehingga tumbuh jamur sangat subur dan besar-besar nantinya.
               Bibit jamur tiram F0 adalah bibit jamur indukan dengan media dasar agar-agar ( PDA) . Sebagai inokulan bibit F0 adalah jaringan jamur yang berasal dari jamur pilihan .Bisa diperbanyak dalam media dasar, baik cawan fetri, tabung reaksi, tabung pipih dll. Keturunan dari bibit ini akan menghasilkan jamur yang cepat tumbuh, seragam , besar-besar. 1 botol F0 akan menghasilkan sekitar 70-80 botol bibit F1. Bibit jamur tiram F0 atau banyak juga orang-orang menyebutnya dengan kultur murni, jaringan murni, PDA atau biakan murni, bibit jamur tiram tingkat ini adalah tingkatan pertama, dimana cara membuatnya di ambil langsung dari spora jamur tiram itu sendiri dengan menggunakan PDA (Potatos Dextrosa Agar) sebagai tempat media tumbuh kembang misilium bibit jamur tiram.
B.     Tujuan 
       1. Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan bibit jamur F0. 
       2. Mahasiswa mampu dan terampil dalam mempraktekan pembuatan bibit jamur F0.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
           Jamur atau cendawan adalah suatu organisme yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa. Hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada juga dengan cara generatif. Jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya untuk memperoleh makanannya. Setelah itu, menyimpannya dalam bentuk glikogen. Jamur merupakan konsumen, maka dari itu jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnyaSemua zat itu diperoleh dari lingkungannya.Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit. (wiki,2011).
           Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom.
Klasifikasi jamur tiram :
Kingdom          : Fungi
Filum               : Basidiomycota
Kelas               : Homobasidiomycetes
Ordo                : Agaricales
Family             : Tricholomatacea
Genus              : Pleurotus
Spesies            : P. ostreatus 
          Jamur merang merupakan organisme yang tersusun atas komponen dasar berupa hifa yang terbentuk seperti benang halus dan panjang. Sebagian hifa dibatasioleh dinding melintang yang disebut septa/sekat , namun ada pula hifa yang tidak memiliki sekat/ asepta. Selanjutnya kumpulan hifa tersebut membentuk misellium yang menyusun tubuh buah.
Klasifikasi jamur merang :
Kingdom                     : Fungi
Divisi                           : Amastigomycota
Sub Devisi                   : Basidiomycotea
Kelas                           : Basidiomycetes
Ordo                            : Agaricales
Famili                          : Plutaceae
Genus                          : Volvariella    
Spesies                        : Volvariella volvacea
Kistinnah (2010), menyatakan bahwa secara alamiah, jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dilakukan dengan pembelahan, yaitu dengan cara sel membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa, penguncupan, yaitu dengan cara sel anak yang tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inangnya atau pembentukan spora. Spora aseksual ini berfungsi untuk menyebarkan speciesnya dalam jumlah yang besar dengan melalui perantara angin atau air. Ada beberapa macam spora aseksual, di antaranya seperti berikut: 
a. Konidiospora, merupakan konidium yang terbentuk di ujungatau di sisi hifa. Ada yang berukuran kecil, bersel satu yang disebut mikrokonidium, sebaliknya konidium yang berukuran besar dan bersel banyak disebut makrokonidium
b. Sporangiospora, merupakan spora bersel satu yang terbentuk dalam kantung yang disebut sporangium, pada ujung hifa khusus.
              Pembuatan bibit F0 PDA yang dimaksud di sini adalah pembiakan kultur murni atau biakan murni dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Yang dimaksud dengan kultur jaringan adalah mengambil bagian dari jamur untuk ditumbuhkan pada media PDA agar dapat berkembang dan memperbanyak diri. Sel-sel spora jamur tiram diharapkan dapat berkembang menjadi individu baru secara sempurna pada media yang sesuai dalam hal ini media PDA. Teknik kultur jaringan dengan media PDA (Potato Dextrosa Agar) ini sangat penting untuk dikuasai oleh pembudidaya jamur karena dari sinilah semua proses multiplikasi atau pengembangan jamur tiram berlangsung.(Anonim.2010)
           Teknik kultur jaringan menuntut syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi dalam pelaksanaannya. Laboratorium harus menyediakan alat-alat kerja, sarana pendukung terciptanya kondisi aseptik terkendali dan fasilitas dasar seperti, air, listrik dan bahan bakar. Pelaksanaan kultur jaringan memerlukan juga perangkat lunak yang memenuhi syarat. Dalam melakukan pelaksanaan kultur jaringan, pelaksanaan harus mempunyai latar belakang ilmu-ilmu dasar tertentu yaitu botani, fisiologi tumbuhan ZPT, kimia dan fisika yang memadai. pelaksana akan berkecimpung dalam pekerjaan yang berhubungan erat dengan ilmu-ilmu dasar tersebut. Pelaksana akan banyak berhubungan dengan berbagai macam bahan kimia, proses fisiologi tanaman (biokimia dan fisika) dan berbagai macam pekerjaan analitik (Yusnita, 2003).
           Kadang-kadang latar belakang pengetahuan tentang mikrobiologi, sitologi dan histologi. Pelaksana juga dituntut dalam hal keterampilan kerja, ketekunan dan kesabaran yang tinggi serta harus bekerja intensif. Pekerjaan kultur jaringan meliputi : persiapan media, isolasi bahan tanam (eksplan), sterilisasi eksplan, inokulasi eksplan, aklimatisasi dan usaha pemindahan tanaman hasil kultur jaringan ke lapangan. (Yusnita, 2003).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
           Praktikum Pertanian Tanpa Tanah pada acara pembuatan kumbung mini jamur ini dilakuakan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada hari Kamss 11 April 2013 pukul 13.00 WIB s/d selesai.


B.     Alat dan Bahan  
     a. Alat 
         1.      Botol Pipih 
         2.      Autoclaf
         3.       Kapas
         4.      Karet
         5.      Alumunium Foil
         6.      Cutter
         7.      Pinset
         8.      Bunzen
         9.      Alkohol
        10.  Gelas ukur
        11.  Kotak pembibita

    b.      Bahan
        1.      Kentang segar 200 gr
        2.      Dextrosa 20 gr
        3.      Agar 20 gr
        4.      Air steril / air destilasi 1 liter
        5.      Induk jamur





C. Cara kerja
    a. Langkah pembuatan cairan PDA :

        1.      Kupas kentang kemudian cuci dengan air bersih lalu cincang kira-kira 1cm2

        2.      Rebus kentang yang sudah di potong dengan air sebanyak 1ltr selama -+ 15-20 mnt atau sampai
              air berwarna kekuningan (kentang lunak) kira-kira air menjadi 500 ml dari 1ltr tadi
        3.      Ambil cairan hasil rebusan kedalam gelas ukur dengan takaran 450ml-500ml
        4.      Masukan Dextrosa dan Agar- agar masing-masing 7gr seperti keterangan di atas
        5.      Aduk sampai larut dan merata kemudian masukan cairan tadi kedalam botol (tabung reaksi
              tergantung keinginan) masing-masing 10ml
        6.      Kemudian tutup botol /tabung dengan kapas dan lapisi dengan kertas email kemudian ikat dengan
               karet bila perlu.
        7.      Sterilkan botol yang berisi cairan PDA tadi dalam Autoclave selama kurang lebih 30-45menit
              dalam suhu 121°c, tekanan 1,5 - 2 atm. Pertahankan kondisi ini selama kurang lebih 45 menit.
        8.      Biarkan mendingin hingga suhu kurang lebih 37°c
        9.      Keluarkan botol-botol tadi dan letakkan dalam posisi miring/tidur agar cairan bisa melebar dengan
              tujuan memperbanyak area media. Jangan sampai cairan mencapai mulut botol.
                   Jika cairan PDA agar tadi sudah mengeras, barulah siap untuk di Inokulasikan bibit yang
         didapat dari jamur langsung.
                   Catatan : Sebelumnya botol dibersihkan dan disteril dengan merebus botol dengan air mendidih
         selama kurang lebih 10 menit. Memang dalam membuat bibit PDA, kebersihan, sterilisasi tempat, alat
         dan bahan adalah syarat utama dalam menunjang keberhasilannya. 
     
b.      Dengan kultur jaringan : 
      1.      Menuang/ memasukkan media PDA yang sudah dibuat dari Erlenmeyer ke dalam petridish,
            memasukkan media tersebut dalam keaadaan masih agak panas agar belum membentuk jel/mulai
            memadat dan di dekat lampu Bunsen yang sudah dinyalakan. 
     2.      Sambil menunggu media padat menyiapakan alat-alat yang akan digunakan, alat-alat tersebut sudah
           dalam keadaan steril (pinset, blade, petidish), LAFC dibersihkan menggunakan alkohol dan di UV
           terlebih dahulu 20-30 menit, setelah akan digunakan LAFC blower dan lampu dihidupkan. 
     3.      Mencuci jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang akan digunakan untuk bahan bibit dengan kultur
           jaringan. 
     4.      Setelah media padat, media tersebut dimasukkan kedalam laminar yang sebelumnya disemprot
           menggunakan alkohol, selain media yang dimasukkan alat-alat yang lain yaitu petridish, scapel, blade,
           lampu bunsen dan jamur, semua disemprot alkohol terlebih dahulu. 
     5.      Setelah semua alat dan bahan siap, bisa langsung dilakukan inokulasi eksplan dengan cara: 
            ·         Memasang blade pada scapel 
            ·         Menyalakan lampu Bunsen
            ·         Mensterilkan pinset dan scapel diatas bara lampu bunsen yang sebelumnya dicelupkan kedalam
                  alcohol
            ·         Membelah jamur merang menjadi 2 bagian diatas permukaan petridish, didalam belahan tersebut
                  terdapat seperti tankai itu di potong menjadi beberapa bagian 
            ·         Potongan-potongan bagian tubuh jamur tersebut dimasukkan kedalam media, masing-masing
                  media dalam petridish diisi 3 potongan
            ·         Setelah digunakan scapel dan blade kembali disterilkan 
      6.      Setelah inokulasi selesai diberi label dan disimpan dalam ruangan gelap dan steril 
      7.      Melakukan pengamatan secara berkala, bila terjadi kontaminasi segera dipisahkan dan dibersihkan. 
      8.      Setelah miselium memenuhi petridish maka sudah siap digunakan untuk membuat bibit F1.

  c.       Dengan spora :        1.      Menuang/ memasukkan media PDA yang sudah dibuat dari Erlenmeyer ke dalam petridish,
             memesukkan media tersebut dalam keaadaan masih agak panas agar belum membentuk jel/mulai
             memadat dan di dekat lampu Bunsen yang sudah dinyalakan. 
       2.     Sambil menunggu media padat menyiapakan alat-alat yang akan digunakan, alat-alat tersebut sudah
             dalam keadaan steril (pinset, blade, petidish, tissue), LAFC dibersihkan menggunakan alkohol dan
             di UV terlebih dahulu 20-30 menit, setelah akan digunakan LAFC blower dan lampu dihidupkan.

      3.      Mencuci jamur merang (Volvariella volvaceae) yang akan digunakan untuk bahan bibit dengan kultur
             jaringan.
      4.      Setelah media padat, media tersebut dimasukkan kedalam laminar yang sebelumnya disemprot
            menggunakan alkohol, selain media yang dimasukkan alat-alat yang lain yaitu petridish, scapel, blade,
            lampu bunsen dan jamur, semua disemprot alkohol terlebih dahulu.
     5.      Setelah semua alat dan bahan siap, bisa langsung dilakukan inokulasi eksplan dengan cara:
             ·         Memasang blade pada scapel
             ·         Menyalakan lampu Bunsen             ·         Mensterilkan pinset dan scapel diatas bara lampu bunsen yang sebelumnya dicelupkan kedalam
                   alcohol
             ·         Memotong tangkai jamur mengguankan scapel dan pinset. Bagian yang digunakan adalah bagian
                   tudungnya
             ·         Mengambil tissue dan ditaruh di pemukaan petridish, kemudian pegang tudung jamur
                   menggunakan pinset dan bagian lamela diketuk-ketukkan kedalam tissue agar spora dalam
                   jamur tersebut jatuh ke dalam tissue
             ·         Spora yang ada pada tissue tersebut dimasukkan ke dalam media PDA dengan cara hati-hati.             ·         Setelah inokulasi selesai diberi label dan disimpan dalam ruangan gelap dan steril
             ·         Melakukan pengamatan secara berkala, bila terjadi kontaminasi segera dipisahkan dan
                   dibersihkan.
             ·         Setelah miselium memenuhi petridish maka sudah siap digunakan untuk membuat bibit F1.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 
A. Hasil

          Setelah melakukan praktikum atau percobaan pembuatan bibit F0 dengan media PDA dilakukan denan dua teknik atau cara yaitu dengan cara pengambilan tubuh buah jamur dan dengan cara spora jamur,  maka diperoleh hasil sebagai berikut : 
      1. Tubuh buah jamur
                 petri 1, terjadi kontaminasi
                 petri 2, tumbuh satu & akhirnya terjadi kontaminasi
                 petri 3, terjadi kontaminasi
      2. Teknik spora

                 Petri 1, terjadi kontaminasi & tidak tumbuh

B. Pembahasan
          Bibit jamur tiram F0 adalah bibit jamur indukan dengan media dasar agar-agar ( PDA). Pembuatan bibit F0 PDA yang dimaksud di sini adalah pembiakan kultur murni atau biakan murni dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Yang dimaksud dengan kultur jaringan adalah mengambil bagian dari jamur untuk ditumbuhkan pada media PDA agar dapat berkembang dan memperbanyak diri. Sel-sel spora jamur tiram diharapkan dapat berkembang menjadi individu baru secara sempurna pada media yang sesuai dalam hal ini media PDA.
         Pada praktikum pembuatan bibit f0 yang dilakukan kemarin dengan menggunakan bahan jamur tiram untuk teknik pengambilan batang tubuh jamur dan jamur merang untuk teknik spora. Sebelum pembuatan f0 dilakukan terlebih dahulu membuat atau menyiapkan medianya yaitu media PDA  . dimana disaat pembuatan media tempat dan alat-alat semuanya steril supaya nantinya tidak terjadi kontaminasi. Setelah pembuatan media selesai maka dilakukan pembuatan bibit f0 di ruangan yang steril atau LAF .pertama dilakukan yaitu menyeterilkan alat dan juga tangan dengan alkohol supaya tidak terjadi kontaminasi, setelah itu dilakukan pengambilan batang tubuh dari jamur tiram tersebut secara hati-hati dan yang diambil bagian dalam batang tubh jamur kemudian diletakkan dipetridis yang masing-masing Petridis berisi 3 batang tubuh jamur itu dilakukan di tiga Petridis kemudian untuk yang teknik spora yaitu sama dengan atas hanya perbedaanya jamur yang dipilih harus yang sudah mekar. Dan caranya kerjanya jamur tersebut di telungkupkan di ptridis supaya spora jatuh di Petridis. Setelah itu semua Petridis disimpan dan diamati setiap hari.
         Setelah dilakukan pengamatan hasil yang diperoleh kelompok kami yaitu semua bibit f0 terkontaminasi, sebenarnya ada yang tumbuh tetapi karena pengamatan yang dilakukan terlambat maka akhirnya terkontaminasi juga. Factor lain yang menyebabkan bibit f0 ini terkonaminasi yaitu kurang menjaga kesterilan saat melakukan isolasi, kurang mahir dalam melakukannya dalam artian masih dalam tahap belajar, bahan yang kelompok kami gunakan yaitu jamur tiram dimana batang tubuh jamur tiram agak ulet atau alot dibandingan dengan batang tubuh jamur lainnya sehingga sangat menyusahkan kami saat melakukan pemotongan/penambilan batang buah.


BAB V
KESIMPULAN

          Setelah melakukan praktikum atau percobaan pembuatan bibit jamur f0 , maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
     1.      Bibit jamur tiram F0 adalah bibit jamur indukan dengan media dasar agar-agar ( PDA).

     2.      Pembuatan bibit induk F0 pada jamur pangan(adible musroom) dapat di buat dengan dua cara yaitu 
           dengan kultur jaringan dan dengan kultur spora.

     3.      Kultur jaringan adalah mengambil bagian dari jamur untuk  ditumbuhkan pada media PDA agar 
           dapat berkembang dan memperbanyak diri.


  
DAFTAR PUSTAKA

Budiawan, Fandi., Pengaturan Suhu Dan Kelembaban Pada Miniatur Kumbung Untuk Meningkatkan Produktifitas Jamur Tiram, Yogyakarta

Dumanauw,J.F.1990. Mengenal Kayu. Yogyakarta:kanisius

Phansin AJ,Zeeuw C de .1980. Textbook of Wood Technology Vol. II. New York: Mc Graw-Hill Book Company

Parjimo dan Agus Andoko, Budidaya jamur, jamur kuping, jamur tiram, dan jamur merang, Agro Media Pustaka 2007

Sulistyowati E, Junianto YD.1996.Inventarisasi musuh alami hama PBK, Conopomorpha cramerella Snell di Propinsi maluku. Pelita perkebunan.

Suhartini, T. Aminatun, dan V. Henuhili.  2011.  Pelatihan Budidaya Jamur Tiram Dengan Sistem Susun Pada Masyarakat Desa Kasihan, Bantul Sebagai Upaya Meningkatkan Pendapatan Keluarga.  Modul Pelatihan Jamur Tiram.  Desa Kasihan, Bantul.  17 hlm. 


Suriawiria.  2006. Budidaya Jamur Tiram.  Kanisius.  Yogyakarta.  55 hlm. 



Poskan Komentar